Connect with us

Artikel Top Peluit

Park Ji-Sung: Pemain Sepak Bola Asia Tersukses di Dunia

Terkenal dengan sebutan “Park Ji Sung sang 3 Paru-Paru”, 19 trofi berhasil ia menangkan sepanjang karirnya, terbanyak sebagai pemain Asia.

Park Ji Sung dengan trofi Champions League (kredit foto: thesun.co.uk)
Park Ji Sung dengan trofi Champions League (kredit foto: thesun.co.uk)

Park Ji Sung: Pemain Sepak Bola Asia Tersukses di Dunia

Park Ji Sung adalah mantan pemain sepak bola asal Asia paling sukses di dunia karena telah menjuarai 19 trofi. Pria asal Korea Selatan ini juga menjadi pemain Asia pertama yang berhasil menjuarai UEFA Champions League (Liga Champions Eropa) dan Piala Dunia Antar Klub FIFA.

Park Ji Sung juga terkenal karena bisa bermain di segala posisi di gelandang (gelandang serang, bertahan, tengah, atau kedua sayap) karena memiliki tingkat disiplin, etos kerja, stamina, teknik menggiring dan mengoper bola serta pergerakan tanpa bola yang tinggi. Oleh karena itu, Park Ji Sung juga memiliki julukan “Park Ji Sung sang Tiga Paru-Paru“.

Minum Jus Kodok Rebus dan Darah Rusa

Sejak kecil, Park Ji Sung bukanlah anak dengan postur tubuh yang ideal.

Oleh karena itu, kedua orang tuanya, Park Sung-Jong (ayah) dan Jang Myung-Ja (ibu) memberikan ramuan rahasia.

Park Ji Sung terbiasa mengonsumsi obat herbal berupa jus kodok rebus dan darah rusa.

Kemudian, berkat itu, fisik Park Ji Sung mulai membaik: semakin tinggi dan semakin kuat.

Karir Park Ji Sung di Korea Selatan

Park Ji Sung lahir pada tanggal 25 Februari 1981 di Seoul, ibu kota sekaligus kota metropolitan terbesar di Korea Selatan.

Tanggal lahir 25 Februari 1981 ini berdasarkan kalender tradisional asal Korea, lunisolar.

Berdasarkan tanggal lahir Gregorian yang mana umum digunakan pada hari ini, tanggal lahir Park Ji Sung adalah 30 Maret 1981.

Akan tetapi, Park Ji Sung sendiri tetap merayakan pada 25 Februari.

Karir Park Ji Sung terbagi menjadi 3 bagian: tim sekolah, tim kampus serta tim senior.

Park masing-masing memulai karir sekolahnya di Anyong Middle School (setara SMP di Indonesia) dalam kurun waktu 1993-1995 serta Suwon Technical High School (setara SMA di Indonesia) pada 1996 hingga 1998.

Kemudian, ia juga berhasil membawa Suwon Technical High School ini juara Festival Olahraga Nasional Korea pada 1998, pesta olahraga terbesar di negeri itu.

Sayangnya, prestasi itu belum cukup bagi banyak klub profesional untuk merekrutnya.

Kembali lagi, faktor fisik membuat Park kesulitan mendapatkan tim.

Meskipun begitu, Park akhirnya mendapatkan beasiswa untuk bermain di Myongji University, sebuah universitas di Korea Selatan pada 1999.

Awalnya, Park ingin ditarik menjadi atlet tenis karena anggota klub sepak bola sudah penuh, namun akhirnya bisa tetap bisa berlatih sepak bola berkat bantuan Kim Hee-Tae, pelatih sepak bola kampus yang juga mantan pemain tim nasional Korea Selatan.

Namun, status Park di tim sepak bola hanya sebagai pemain prospektif, bukan inti.

Beberapa pekan kemudian, tepatnya Januari 1999, Myongji University berkesempatan untuk berlatih bersama tim nasional Korea Selatan besutan pelatih Huh Jung-moo.

Kehebatan Park menarik perhatian Jung-moo dan berakhir membawanya ke tim senior.

Debut Park Ji Sung pun terjadi untuk tim nasional senior Korea pada kualifikasi Piala Asia melawan Laos, 5 April 2000, dengan skor akhir 9-0. Park Ji Sung bermain 90 menit penuh.

Karir Senior Legenda Korea Selatan ini Bermula di Jepang

Bulan Juni 2000, Park saat itu adalah anggota timnas Korea Selatan dan mahasiswa tingkat 2 atau semester 4 di Myongji University.

Meskipun relatif tidak terkenal, hal itu tidak menyurutkan Kyoto Purple Sanga, klub J1 League (divisi teratas Liga Jepang) saat itu untuk merekrut Park Ji Sung.

Saat itu, Park Ji Sung terbilang pemain Korea Selatan pertama yang direkrut oleh tim Jepang.

Namun, sayangnya Kyoto Purple Sanga harus terdegradasi ke J2 League ketika Park datang.

Meskipun begitu, Park dan Kyoto Purple Sanga berhasil juara J2 League pada musim 2001.

Setahun kemudian pada 2002, Park berhasil membawa Kyoto Purple Sanga ke final Emperor’s Cup atau Piala Kasiar (天皇杯 JFA 全日本サッカー選手権大会).

Piala Kasira sendiri mirip seperti dengan Piala FA di Inggris, yaitu turnamen babak gugur dengan jumlah tim yang banyak (88) serta sudah berumur tua (sejak 1921).

Pada final Piala Kaisar 2002 yang digelar pada 2003, Park berhasil mencetak gol penyeimbang kedudukan menjadi 1-1.

Kemudian, Kyoto Sanga berhasil menang dengan skor 2-1 dan berhasil menjadi juara.

Gelar Piala Kaisar pertama sepanjang sejarah Kyoto Sanga pun berhasil Park raih.

Kemenangan Kyoto ini menjadi hadiah perpisahan bagi Park yang kemudian pindah ke PSV Eindhoven karena menerima tawaran dari pelatih klub asal Belanda tersebut, Guus Hiddink.

Guus Hiddink sendiri bukan sosok asing bagi Park.

Hiddink adalah pelatih timnas Korea Selatan ketika Park membuat debutnya.

PSV Eindhoven, Pintu Masuk Park Ji Sung kepada Kesuksesan

Setelah sukses bermain di Piala Dunia 2002, manajer Guus Hiddink akhirnya pindah dari Korea Selatan ke klub Eredivisie Belanda, PSV Eindhoven.

Pada 2003, Hiddink mendatangkan 2 pemain binaannya di timnas Korea Selatan, yaitu Lee Young-pyo dan Park Ji Sung.

Ketika Lee sudah tampil regular di tim inti, Park masih kesulitan untuk adaptasi karena masalah cedera meniskus yang mengharuskan ia operasi dan absen untuk waktu yang cukup lama.

Kembali bermain pada akhir musim 2003-2004, Park pun akhirnya mampu beradaptasi dengan baik.

Barulah pada musim depannya, 2004-2005, Park mulai bersinar di PSV.

Kepergian Arjen Robben ke Chelsea membuat menit bermain Park semakin banyak.

Bermain di PSV semakin mengeksplor kebisaan Park bermain di segala posisi.

Pasalnya, dari yang awalnya Park adalah seorang gelandang bertahan di masa muda, kemudian ia bermain di gelandang tengah hingga pada akhirnya di PSV, ia bermain di posisi sayap, menggantikan Robben.

Musim 2004-2005 adalah musim terbaik Park bersama PSV: ia berhasil membawa klubnya melaju hingga ke semifinal UEFA Champions League meskipun harus gugur dari AC Milan, namun ia berhasil mencetak gol pertama pada kemenangan 3-1 di leg pertama, bermain di kandang sendiri. Namun, PSV kalah 2-0 di markas Milan, San Siro, dan gugur karena aturan gol tandang.

Berkat penampilan gemilang musim 2004-2005, Park berhasil masuk dalam nominasi penyerang terbaik pilihan UEFA (UEFA Best Forward Award), bersama dengan nama-nama hebat seperti Andriy Shevchenko, Adriano Leite, Samuel Eto’o dan Ronaldinho Gaucho.

Tidak hanya itu, saking cintanya penggemar PSV kepada Park, ia sampai dibuatkan lagu berjudul “Song For Park” di album resmi PSV berjudul “PSV Kampioen”.

Pindah ke Manchester United, Park Ji Sung Pecahkan Banyak Rekor untuk Pemain Asia

Park ketika dikenalkan sebagai pemain baru Manchester United bersama manajer legendaris, Sir Alex Ferguson (kredit foto: Matthew Peters | Man Utd via Getty Images)

Park ketika dikenalkan sebagai pemain baru Manchester United bersama manajer legendaris, Sir Alex Ferguson (kredit foto: Matthew Peters | Man Utd via Getty Images)

Dengan nominal sebesar 4 juta poundsterling, Manchester United rekrut Park Ji Sung pada Juli 2005.

Bersama manajer legendaris, Sir Alex Ferguson, Park meraih segalanya di salah satu klub sepak bola terbaik sepanjang masa di dunia.

Park menjadi pemain Asia Timur kedua di Manchester United setelah Dong Fangzhuo dari Tiongkok.

Banyak rekor yang Park pecahkan di Manchester United, dimulai dari pemain Asia pertama yang menjadi kapten Manchester United ketika ia menggantikan Ryan Giggs di pertandingan fase grup UEFA Champions League melawan Lille di musim pertamanya, 2005-2006.

Gol debut Park untuk United datang di babak 5 Piala Liga melawan Birmingham City, 20 Desember 2005 dengan skor akhir kemenangan 3-1.

Kemudian, untuk gol debut di Liga Inggris, datang ketika United menang 2-0 melawan Arsenal di Old Trafford, markas MU.

Musim 2008-2009, ketika United berhasil melaju ke semifinal Champions League, Park Ji Sung berhasil menjadi satu-satunya pemain Asia yang terlibat di 4 semifinal Champions League berbeda.

Kemudian, pada musim depannya yakni 2008-2009, Park akhirnya bermain di final Champions League, menjadikannya pemain Asia pertama yang melakukannya.

Sayang, MU kalah dari Barcelona dengan skor 2-0.

Musim sebelumnya yaitu 2007-2008, United juga melaju ke final dan menjadi juara setelah mengalahkan Chelsea, namun Park tidak masuk ke dalam skuad.

Rekor unik juga berhasil Park ciptakan ketika pertandingan persahabatan antara Manchester United melawan League of Ireland XI.

Saat itu, ia berhasil menjadi pencetak gol pertama sepanjang sejarah stadion yang baru berdiri, Aviva Stadium. United menang 7-1.

Park Ji Sung juga berhasil menjadi pemain ke-92 Manchester United yang berhasil bermain di 200 pertandingan atau lebih.

Karir Park Ji Sung di Manchester United harus berhenti di musim 2011-2012 karena pindah ke Queens Park Rangers (QPR) pada 9 Juli 2012.

Kurangnya menit bermain menjadi alasan Park pindah.

Akhir Karir Park

Baru datang ke QPR, Park Ji Sung langsung menjadi kapten klub tersebut.

Ia bermain bersama para pemain bagus lainnya, seperti kiper Julio Cesar (eks skuad Inter Milan di era treble Jose Mourinho), Fabio (pemain pinjaman dari Manchester United), Adel Taarabt, Shaun Wright-Phillips, Esteban Granero dan Loic Remy.

Sayangnya, performa hebat Park tidak bisa ia terapkan di QPR karena cedera dan rentetan performa buruk.

Park di QPR (kredit foto: skysports.com)

Park di QPR (kredit foto: skysports.com)

Park pun hanya bermain sebanyak 20 kali di Liga Inggris dan QPR pun terdegradasi, berada di posisi juru kunci (20 dari 20 tim).

Terdegradasi, Park pun pindah ke PSV Eindhoven dengan status pinjaman untuk musim 2013-2014.

Park bermain cukup bagus dengan 27 penampilan, membawa PSV finish di peringkat 4 Eredivisie.

Di sana, ia bermain dengan beberapa pemain bagus lainnya, sebut saja Georginio Wijnaldum, Memphis Depay, Bryan Ruiz, Jeffrey Bruma, Jetro Willems, Adam Maher, Santiago Arias, Jeroen Zoet dan masih banyak lagi.

Pada 14 Mei 2014, setelah musim berakhir, Park pun mengumumkan bahwa ia pensiun dari dunia sepak bola.

Aku pergi tanpa penyesalan, aku sangat menikmati bermain sepak bola, aku sudah mencapai lebih dari apa yang pernah aku pikirkan bisa aku capai. Aku sangat bersyukur untuk semua dukungan yang aku terima dan aku akan hidup di sisa umurku berpikir bagaimana bisa membayarnya kembali. -Park Ji Sung.

Meskipun terbilang belum terlalu tua, ternyata alasan Park untuk pensiun memang masuk akal.

Cedera lutut menjadi alasan utama sang bintang Korea Selatan untuk mengakhiri karirnya.

Karir Bersama Timnas Korea Selatan (Bagian 1)

Karir Park Ji Sung bersama Korea Selatan terbilang cukup mulus.

Ia memulai karir sebagai gelandang bertahan, kemudian berpindah-pindah ke banyak posisi.

Mulai dari sayap, gelandang tengah, kanan, kiri dan juga penyerang sayap.

Ajang besar pertama yang Park mainkan adalah Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Pada fase grup, Korea sudah jalani 2 pertandingan dengan hasil akhir menang melawan Polandia dan imbang melawan Amerika Serikat.

Untuk bisa lolos ke babak gugur, Korea Selatan harus bermain minimal seri melawan Portugal yang saat itu memiliki bintang Luis Figo dan Rui Costa.

Tanda-tanda kemenangan sudah terlihat ketika Portugal harus menerima 2 kartu merah dan bermain dengan 9 pemain sejak menit 70.

Park Ji Sung pun cetak gol kemenangan setelah mengontrol bola dengan dada dan kemudian berlanjut dengan tendangan voli yang mengarah ke antara kedua kaki kiper Portugal, Vitor Baia.

Selebrasi gol Park ke gawang Portugal (kredit foto: EMMANUEL DUNAND, AFP)

Selebrasi gol Park ke gawang Portugal (kredit foto: EMMANUEL DUNAND, AFP)

Korea Selatan berhasil lolos ke fase gugur Piala Dunia FIFA untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka.

Kemudian, Korea Selatan pun juga berhasil menjadi negara Asia pertama yang lolos ke babak semifinal setelah mengalahkan Italia dan Spanyol, namun harus kalah 1-0 dari Jerman dan kalah lagi di perebutan juara 3 melawan Turki.

Pada tahun yang sama, 2002, Park juga bermain untuk Korea Selatan di Asian Games dan berhasil meraih medali perunggu.

Karir Bersama Timnas Korea Selatan (Bagian 2)

Park Ji Sung juga bermain di Piala Asia 2004, namun Korea Selatan harus kalah 4-3 dari Iran di babak 8 besar.

Dua tahun kemudian, 2006, Korea Selatan dan Park Ji Sung kembali berlaga pada Piala Dunia FIFA di Jerman.

Sayang, Korea Selatan kali ini gagal lolos dari fase grup setelah mengalahkan Togo 2-1, imbang 1-1 melawan finalis Perancis (cetak gol dan raih penghargaan pemain terbaik di laga itu) dan kalah 2-0 dari Swiss.

Setahun kemudian, Park tidak ikut Korea Selatan di ajang Piala Asia 2007 di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam karena cedera.

Korea Selatan saat itu berhasil menjadi tim peringkat 3.

Pada 2010, Park kali ini ikut Korea Selatan mengikuti Piala Dunia FIFA di Afrika Selatan.

Ban kapten akhirnya mendarat ke lengan Park untuk pertama kalinya, sejak laga persahabatan, kualifikasi Piala Dunia hingga turnamen Piala Dunia itu sendiri.

Park Ji Sung kembali mencetak rekor, yaitu berhasil menjadi pemain Asia pertama yang mencetak gol di 3 edisi Piala Dunia berbeda secara beruntun.

Gol itu datang di babak grup ketika Korea Selatan menang 2-0 melawan Yunani.

Park di timnas Korea Selatan setelah cetak gol melawan Yunani di Piala Dunia 2010 (kredit foto: IMDB.com)

Park di timnas Korea Selatan setelah cetak gol melawan Yunani di Piala Dunia 2010 (kredit foto: IMDB.com)

Dengan 3 gol di Piala Dunia, Park Ji Sung menjadi top skor bersama pemain Asia di Piala Dunia bersama dengan Ahn Jung-hwan dan Son Heung-min dari Korea Selatan serta Sami Al-Jaber dari Arab Saudi.

Dua pertandingan fase grup lainnya adalah kekalahan 4-1 dari Argentina dan imbang 2-2 melawan Nigeria.

Korea Selatan pun berhasil lolos ke fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya di luar negara sendiri, namun harus kalah dari tim peringkat 4 turnamen itu, Uruguay, 2-1.

Karir Bersama Timnas Korea Selatan (Bagian 3)

Karir Park bersama timnas Korea pun berakhir setelah Piala Asia 2011.

Pada ajang yang digelar di Qatar tersebut, Park sang kapten pun berhasil mencatatkan caps ke-100 untuk Korea di babak semifinal melawan Jepang.

Park mencetak gol pembuka melalui titik putih penalti, namun sayang pertandingan berakhir 2-2.

Pada babak adu penalti, Korea Selatan kalah 3-0 dari Jepang.

Pertandingan terakhir Park Ji Sung untuk Korea Selatan (kredit foto: Getty Images)

Pertandingan terakhir Park Ji Sung untuk Korea Selatan (kredit foto: Getty Images)

Park masuk dalam nominasi pemain terbaik Piala Asia 2011, bersama dengan Mark Schwarzer, Keisuke Honda dan Server Djeparov.

Namun, Honda yang berhasil memenangkannya.

Sebetulnya, pada 2014, Park sempat dibujuk untuk manajer Korea Selatan saat itu, Hong Myung-bo untuk kembali ke timnas.

Korea Selatan pada tahun itu akan mengikuti Piala Dunia FIFA 2014 di Brazil.

Bahkan, Hong sempat terbang ke Belanda untuk menemui Park.

Akan tetapi, Park menolak karena alasan cedera lutut yang mana Hong sudah melihat dengan mata kepala sendiri, betapa parahnya cedera lutut Park.

Gaya Bermain Park Ji Sung

Berkat kecepatan, stamina, fisik, pergerakan tanpa bola, etos kerja, energi, kerja sama, akurasi operan serta kemampuan menggiring bola, Park Ji Sung pun selalu mendapatkan tempat untuk bermain.

Ia bisa bermain sebagai gelandang tengah, gelandang bertahan, gelandang serang, sayap kanan, atau bahkan sayap kiri.

Sir Alex Ferguson dalam beberapa kesempatan bilang bahwa Park adalah pemain di pertandingan besar Manchester United.

Tugasnya adalah sebagai ‘anjing penjaga’ bagi pemain hebat.

Contohnya adalah ketika United bertemu AC Milan di Champions League.

Dalam beberapa kesempatan, Park selalu menjaga ketat playmaker andalan mereka, sang regista, Andrea Pirlo.

Hal itu menyebabkan pola permainan Milan terganggu dan tidak lancar dalam melancarkan serangan.

Namun, Ferguson juga sempat terlewat untuk tidak menggunakan strategi ini di 2 final Champions League melawan Barcelona.

Pada final 2009, Park baru masuk di menit 66 ketika United sudah kalah 1-0 dan skor berakhir 2-0.

Dua tahun kemudian pada 2011, Park bahkan tidak bermain sama sekali dan hanya duduk 90 menit di bangku cadangan ketika timnya kalah 3-1.

Kehidupan Setelah Pensiun

Pada tahun yang sama ketika pensiun, yaitu 2014, Park langsung menjadi ambasador dunia untuk Manchester United.

Masih di tahun yang sama ketika pensiun, ia menikahi eks reporter televisi Korea Selatan, Kim Min-ji.

Pengumuman pernikahan itu ia sampaikan ketika konferensi pers pengumuman pensiun.

Setelah pensiun, Park bisa fokus juga mengurus JS Foundation, yayasan non-profit untuk mengurus kemanusiaan dan mengembangkan anak-anak muda Korea.

Kemudian di 2016, Park belajar bisnis sepak bola selama setahun hingga 2017 di International Centre for Sports Studies (CIES).

Tidak hanya itu, Park juga menjadi komentator di perusahaan SBS di Korea Selatan untuk pertandingan tim nasional Korea Selatan di Piala Dunia.

Kemudian di 2021, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ambasador dunia untuk bergabung ke klub K League 1 Korea, Jeonbuk Hyundai Motors sebagai konsultan.

Pada tahun yang sama, ia pun bergabung ke QPR untuk menjadi pelatih tim U-16.

Setelah pensiun, Park pun akhirnya baru bisa meluruskan nyanyian para penggemar Manchester United untuk dirinya.

Pasalnya, saat muda, Park tidak paham bahwa ternyata nyanyian untuk dirinya ternyata kontroversial.

Kini, Park sudah meminta penggemar Manchester United untuk menyanyikan lagunya yang bernada kontroversial.

Bromance Park Ji Sung dengan Patrice Evra

Ketika datang ke Manchester United, Park harus beradaptasi lagi.

Pemain yang membantunya adaptasi untuk pertama kali adalah Ruud van Nistelrooy dan Edwin van der Sar.

Pasalnya, Park baru saja belajar bahasa Belanda ketika bermain untuk PSV Eindhoven.

Barulah pada musim depannya, Patrice Evra datang ke United.

Evra juga harus beradaptasi, ia dibantu oleh sesama pemain Perancis, Louis Saha dan Mikael Silvestre.

Semusim depannya lagi, barulah Park dan Evra menjadi sangat akrab.

Evra meminta Park untuk pindah dekat rumahnya di Inggris agar bertetangga.

Kemudian, mereka berdua juga memiliki agen yang sama.

Sebetulnya, mereka berteman akrab juga dengan Carlos Tevez sehingga membuat trio Tevez, Evra dan Park.

Uniknya, Tevez tidak terlalu suka berbicara bahasa Inggris, sehingga perbincangan ketiga pemain ini selalu diterjemahkan oleh Evra.

Trio ini sering menghabiskan waktu bersama, mulai dari latihan, pemanasan, hingga bermain rondo setelah berlatih.

Namun, semuanya berjalan begitu cepat ketika Tevez pindah ke Manchester City.

Setelah itu, persahabatan ini kini tinggal Evra dan Park saja di United saat itu.

Evra adalah salah satu dari tiga pemain paling berisik di ruang ganti setelah Gary Neville dan Rio Ferdinand.

Para bintang lain seperti Cristiano Ronaldo, Paul Scholes, Ryan Giggs, Wayne Rooney, Nemanja Vidic, Nani, Dimitar Berbatov, dan lain-lain sampai terheran-heran.

Pasalnya, bagaimana bisa seorang Evra yang begitu cerewet bisa akrab dengan Park yang sangat pendiam.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Patrice Evra (@patrice.evra)

Saking dekat dan akrabnya, Park dan Evra kerap disebut mirip seperti 2 pemeran utama film Rush Hour, yaitu Jackie Chan dan Chris Tucker.

Statistik, Gelar Juara dan Penghargaan Park Ji Sung

Berikut di bawah ini adalah statistik penampilan, gol, asis dan jumlah trofi Park Ji Sung untuk klub dan negaranya.

Nomor Tim Penampilan Gol Asis Trofi
1. Manchester United 204 28 29 13
2. PSV Eindhoven 119 19 16 4
3. Kyoto Sanga 80 13 2
4. Queens Park Rangers 25 4
5. Tim nasional senior Korea Selatan 100 14 9
Total 528 74 58 19

Kemudian, di bawah ini adalah detail trofi yang ia menangkan bersama tim serta penghargaan individu yang ia menangkan.

Kyoto Purple Sanga

J2 League (Liga 2 Jepang): 2001

Piala Kaisar: 2002

PSV Eindhoven

Eredivisie (Liga Belanda): 2002–2003, 2004–2005

KNVB Cup (Piala Belanda): 2004–2005

Johan Cruyff Shield (Piala Super Belanda): 2003

Manchester United

Premier League (Liga Inggris): 2006–2007, 2007–2008, 2008–2009, 2010–2011

Football League Cup (Piala Liga): 2005–2006, 2008–2009, 2009–2010

FA Community Shield (Piala Super Inggris): 2007, 2008, 2010, 2011

UEFA Champions League (Liga Champion Eropa): 2007–2008

FIFA Club World Cup (Piala Dunia Antar Klub FIFA): 2008

Korea Selatan U23

Medali perunggu Asian Games: 2002

Korea Selatan

Peringkat 4 Piala Dunia FIFA: 2002

Peringkat 3 Piala Asia AFC: 2000, 2011

Individu

AFC Asian Cup Quality Player (Pemain Berkualitas Piala Asia): 2011

Greatest Player of All Time (AFC), Pemain Terbaik AFC Sepanjang Masa (FIFA World Cup): 2020

AFC Opta Best XI of All Time, 11 Pemain Terbaik Asia Sepanjang Masa versi Opta (FIFA World Cup): 2020

IFFHS Asian Men’s Team of All Time, 11 Pemain Terbaik Asia Sepanjang Masa versi IFFHS: 2021

Korean FA Goal of the Year, Gol Terbaik Timnas Korea Tahunan: 2002, 2010

Korean FA Player of the Year, Pemain Terbaik Timnas Korea Tahunan: 2010

MLS All-Star Game Most Valuable Player, Pemain Terbaik di Pertandingan vs MLS All-Star: 2011

K League All-Star Game Most Valuable Player, Pemain Terbaik di Pertandingan vs K League All-Star: 2014

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Cuplikan Pertandingan

Atlético Madrid 1-2 Real Madrid Pekan 6
Posted on 19 September 2022 by Raul7
279 views
UD Almería 0-1 Osasuna Pekan 5
Posted on 13 September 2022 by Raul7
7 views
Real Betis Balompié 1-0 Villarreal Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
5 views
Getafe 2-1 Real Sociedad Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
3 views
Elche CF 1-4 Athletic Club Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Real Madrid 4-1 RCD Mallorca Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Atlético Madrid 4-1 Celta Vigo Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Cádiz CF 0-4 Barcelona Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
4 views
Espanyol 2-3 Sevilla Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Rayo Vallecano 2-1 Valencia Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views

LIKE US ON FACEBOOK

More in Artikel Top Peluit