Connect with us

Artikel Top Peluit

Karismatik, Jenius Taktik dan Penuh Prestasi: Itulah Antonio Conte

Setelah menjuarai Serie A, pelatih asal Italia ini langsung undur diri dari Inter Milan. Ia dikabarkan menuju Manchester United. Ini profil lelngkapnya!

Antonio Conte (kredit: Forbes)

Meskipun Terkenal Sebagai Pelatih Hebat, Ternyata Karir Bermainnya Tidak Kalah Hebat

Antonio Conte adalah salah satu nama allenatore terbaik yang pernah ada di sepak bola Italia, bahkan dalam beberapa musim ini.

Namanya cukup terkenal, baik ketika masih aktif bermain untuk Tim Nyonya Tua, Juventus atau saat menukangi beberapa klub lainnya.

Sedikit menarik garis ke belakang, Conte lahir pada 31 Juli 1969 di kota Lecce, sebuah kota di selatan Italia yang terkenal dengan wisata baharinya.

Tak ayal, Conte muda memutuskan berkarir di klub paling terkenal di kampung halamannya, US Lecce pada medio 1985.

Saat itu, Conte masih bermain untuk tim US Lecce U19 hingga akhirnya pada April 1986, Conte hijrah ke Lecce senior.

Pada usia 17 tahun, Conte sudah menjadi andalan tim yang bermarkas di stadion Via Dell Mare itu.

Performa Conte yang menjanjikan sebagai seorang gelandang tengah yang memiliki fisik di atas rata-rata membuat namanya berkibar.

Puncaknya, pada November 1991, Juventus memberikan tawaran untuk US Lecce sebesar 3,6 juta euro untuk menebus jasa Conte.

Bersama US Lecce, Conte bermain sebanyak 92 kali penampilan serta mencetakย  1 gol pada gelaran Serie A 1989-1990.

Il Gialloblu tidak memiliki banyak pilihan saat itu, kesepakatan pun terjadi, Antonio Conte bergabung menuju Juventus pada 1991/1992.

Keputusan yang tidak pernah salah, karena setelah itu Conte menjadi tulang punggung Juventus bahkan Timnas Italia di kemudian waktu.

Total 12 tahun Conte habiskan bersama Juventus dari 1992 hingga pada masa pensiunnya di musim panas 2004.

Untuk gelar prestasi bersama Juventus saat aktif bermain juga cukup mentereng, Scudetto 5 kali, Liga Champions 1995-1996 menjadi bukti.

Sebuah bukti sah bahwa Conte adalah pemain yang sangat berkelas apalagi ban kapten Juventus selalu melingkar di lengan kanannya.


Bersama Gli Azzurri, Conte juga menjadi andalan, termasuk peran krusialnya kala membawa Italia ke final EURO 2000.

Pelatih Italia saat itu, Dino Zoff sangat mempercayakan lini vital di tengah kepada seorang Conte.

Bermain sebanyak 5 kali selama gelaran, Conte sukses membawa Italia keluar sebagai finalis EURO 2000 dan sukses mencetak 1 gol.

Karir Kepelatihan Antonio Conte (1/2)

Selepas gantung sepatu pada tahun 2004, Conte tak lantas berdiam diri saja.

Antonio Conte mengambil kursus kepelatihan yang akan menjadi bekalnya kelak ketika memasuki dunia kepelatihan.

Conte lalu sukses mendapatkan UEFA Pro License dari badan sepak bola tertinggi di Eropa, UEFA.

Sebuah bekal yang luar biasa mengingat usia Conte masih berusia 35 tahun.

Kemudian, Conte memulai karir melatihnya di 2 klub Serie B, yaitu Arezzo (2006 & 2007) dan Bari (2007-2009).

Bersama Bari, Conte mampu membawa tim tersebut juara Serie B di musim 2008-2009 dan promosi otomatis ke Serie A.

Berkat prestasi itu, Atalanta tertarik mendatangkan Conte pada musim 2009-2010.

Sayangnya, Conte mendapatkan kritikan dan protes keras dari ultras Atalanta akibat performa buruk.

Tanggal 7 Januari 2010, Conte mengundurkan diri dan meninggalkan Atalanta di peringkat 19 sehingga terdegradasi di akhir musim.

Musim depannya, klub Serie B kembali jatuh hati kepada Conte, kali ini adalah Siena yang pada musim pertamanya, mampu Conte bawa promosi ke Serie A.

Semusim gemilang bersama Siena, Juventus berani berjudi dengan mendatangkan pelatih yang belum punya pengalaman di level tertinggi.

Ternyata, perjudian Juventus pun sukses.

Dari 2011 hingga 2014, Juventus mendapatkan 3 gelar Serie A dan 2 Supercoppa Italiana.

Kehebatannya juga terpancar dari gelar Panchina d’Oro atau pelatih Serie A terbaik di setiap musim bersama Juventus.

Pada 15 Juli 2014, Conte mengundurkan diri sebagai manajer Juventus karena merasa akan sulit untuk terus menang di klub tersebut.

Karir Kepelatihan Antonio Conte (2/2)

Selepas dari klub, Conte menuju tim nasional Italia dari 2016 hingga selesai Euro 2016.

Gli Azzurri berhasil melaju sampai babak perempat final di turnamen 4 tahunan tersebut sebelum akhirnya gugur dari Jerman melalui adu penalti.

Selesai Euro 2016, Conte yang menyatakan ingin kembali ke level klub, pergi ke Inggris untuk menukangi Chelsea.

Pada musim debutnya di Inggris, Chelsea langsung juara Premier League.

Semusim kemudian, giliran trofi FA Cup yang mampir ke Stamford Bridge.

Namun, sayang, Chelsea mengakhiri musim Premier League di peringkat 5 sehingga gagal lolos ke Champions League.

Padahal, Conte yang semula menandatangani kontrak berdurasi 3 tahun di Chelsea, baru saja memperpanjang kontrak tambahan selama 2 tahun setelah juara Premier League.

Berkat gagal lolos ke Champions League, Conte resmi dipecat dari Chelsea pada 13 Juli 2018.

Musim berikutnya, 2019-2020, Inter Milan menjadi pelabuhan selanjutnya dari Conte.

Bersama I Nerazzurri, Conte membawa Inter Milan menjadi runner-up Serie A dan Europa League sekaligus.

Berkat itu pula, Inter Milan era Antonio Conte mengakhiri dominasi 9 tahun Juventus di kancah Liga Italia, Serie A.

Meskipun begitu, Conte harus berpisah dengan Inter Milan pada musim depannya akibat ketidakcocokan dengan manajemen klub terkait dana transfer pemain.

Kini, Antonio Conte sedang tidak bekerja untuk tim manapun.

Strategi Bermain Antonio Conte

Sejak pertama kali mendunia bersama Juventus, pelatih yang satu ini memiliki setidaknya 3 hal yang patut timnya lakukan.

Pertama, bermain operan-operan pendek dari pemain bertahan.

Kedua, temukan peluang serangan balik cepat sebanyak mungkin.

Ketiga, penuhi sisi kedua sayap dengan banyak pemain.

Semua hal itu terlihat sejak awal kenaikan di Juventus.

Secara formasi, Conte gemar bermain dengan 3 bek sejajar dengan beberapa variasi.

Bisa dengan 3-5-2, 3-4-1-2 atau bahkan 3-4-3.

Setidaknya, ada 1 pemain yang memiliki peran ball playing defender dari 3 pemain bertahan itu.

Kemudian, 2 gelandang tengah tim Conte selalu memiliki peran penghancur serangan lawan serta box-to-box.

Sisanya, tergantung formasi, bisa menggunakan 1 deep-lying playmaker atau regista seperti Andrea Pirlo (Juventus) atau playmaker nomor 10 seperti Eden Hazard (Chelsea) atau Christian Eriksen (Inter Milan).

Bahkan, sesekali Conte menggunakan formasi 4 bek seperti 4-1-4-1, 4-3-3, 4-2-4 atau 4-2-3-1, menyesuaikan lawan.

Ketika kehilangan bola, tim Conte selalu berusaha merebut kembali dengan pressing yang agresif.

Meskipun begitu, kritikan juga tidak lepas dari gaya permainan ini.

Tim besutan Conte terkadang bisa membosankan atau mudah ditebak oleh lawan karena pola permainan yang monoton.

Rekor-Rekor yang Pecah Berkat Conte

Dengan strategi jitu seperti itu, Antonio Conte tak heran apabila banyak memecahkan banyak rekor.

Pertama adalah rekor poin terbanyak ketika Juventus juara Serie A musim 2013-2014 dengan total 102 poin.

Padahal, sebelum kedatangan Conte, Juventus hanya mampu finish di peringkat 7 sebanyak 2 musim berturut-turut.

Rekor bagus tidak berhenti sampai di Italia saja.

Saat pindah ke Inggris bersama Chelsea, Conte mampu membawa The Blues menang sebanyak 11 kali beruntun di liga, sebuah rekor terbanyak klub yang bermarkas di stadion Stamford Bridge tersebut.

Adalah pada saat menang 0-1 di markas Crystal Palace pada 17 Desember 2016, rekor tersebut datang.

Selain itu, Chelsea juga berhasil menyamai rekor kemenangan beruntun terbanyak di liga milik Arsenal pada tahun 2002 dengan total 13.

Rekor tersebut datang saat Chelsea menang 4-2 atas Stoke City.

Sayangnya, Chelsea langsung kalah 2-0 dari Tottenham Hotspur di pertandingan berikutnya.

Pada akhir musim juara itu, Conte juga memecahkan rekor Premier League baru saat itu, yaitu kemenangan terbanyak dalam 1 musim sejumlah 30 kemenangan dari total 38 pertandingan liga.

Gaya Manajemen Antonio Conte

Sebagai seorang manajer dan pelatih, Antonio Conte terlihat sangat bersemangat di banyak kesempatan.

Hal tersebut terlihat dari beberapa kali saat pertandingan, Conte sangat ekspresif dalam memberikan instruksi dengan berbagai luapan emosi.

Karakteristik seperti itu diamini oleh banyak pemain yang pernah bermain untuk Conte.

Melalui buku otobiografinya yang berjudul “Andrea Pirlo: I Think Therefore I Play”, regista kenamaan dunia ini berujar.

Dia hanya butuh satu kali bicara dengan banyak kata-kata sederhana untuk menaklukan aku dan Juventus. Dia memiliki banyak api yang menjalar di sekujur nadinya dan bergerak seperti ular viper. “Skuad ini, wahai anak-anakku, kalian datang dari dua musim berturut-turut sebagai peringkat tujuh. Itu gila dan mengejutkan. Aku di sini bukan untuk itu, jadi ini saatnya untuk bermain buruk.”

Ketika Conte berbicara, kata-katanya akan menyerangmu. Kata-kata itu menembus dinding pikiranmu. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku bilang kepada diriku sendiri: “Sial, Conte bilang sesuatu yang sangat tepat lagi hari ini!” -Andrea Pirlo.

Dari cara menangani orang-orang serta memberikan motivasi, Conte merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sang pelatih pun mengamini hal tersebut ketika menangani Chelsea.

Kata ‘pelatih’ mencakup semuanya. Kamu tidak boleh hanya bagus dalam hal taktik, ataupun hanya bagus dalam motivasi, atau bagus dalam hal psikologi, atau bagus dalam menangani klub dan media. Kamu harus bagus di semua hal dan mencoba serta bagus di semua hal itu. Untuk melakukan ini kamu harus pergi belajar dan sejak aku menjadi pelatih, untuk aku, adalah sebuah pembelajaran tanpa henti. -Antonio Conte.

Sayangnya, saking terlalu bersemangat, terkadang Conte harus menerima kartu merah apabila terlalu banyak protes ketika pertandingan berlangsung.

Selain itu, Antonio Conte juga terkenal akan disiplin tinggi yang ia terapkan untuk semua anak asuhnya.

Tidak sampai di situ, pola makan alias diet skuad pun diatur sedemikian rupa supaya menunjang performa di dalam lapangan.

Makanan seperti pizza, minuman bersoda, dan semua yang berbau saus tomat serta coklat dilarang keras untuk dikonsumsi.

Manchester United Jadi Tujuan Selanjutnya?

Setelah kekalahan memalukan 0-5 dari Liverpool dalam lanjutan Premier League musim 2021-2022 di Old Trafford, masa depan Ole Gunnar Solskjaer selaku pelatih Manchester United menjadi tanda tanya besar.

Meskipun sang pelatih sudah menyatakan tetap akan bertahan di klub yang membesarkannya sebagai pemain, namun rumor tidak berhenti di situ saja.

Deretan nama pelatih mulai terdengar siap untuk menjadi pengganti Solskjaer di Old Trafford.

Nama-nama dari Zinedine Zidane, Erik ten Hag, Mauricio Pochettino, Brendan Rodgers, Laurent Blanc, Roberto Martinez, Roberto Mancini, Julen Lopetegui sampai yang paling santer, yaitu Antonio Conte.

Secara historis, Conte tidak pernah mau masuk ke dalam sebuah klub apabila sudah berjalan di tengah musim.

Namun, rumor mengatakan bahwa Conte bersedia keluar dari zona nyamannya dan siap menukangiย The Red Devilsย di tengah musim berjalan.

Dengan rekam jejak semewah itu, sepertinya Antonio Conte akan menjadi sosok yang cocok dengan klub sebesar Manchester United.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Cuplikan Pertandingan

Atlรฉtico Madrid 1-2 Real Madrid Pekan 6
Posted on 19 September 2022 by Raul7
279 views
UD Almerรญa 0-1 Osasuna Pekan 5
Posted on 13 September 2022 by Raul7
7 views
Real Betis Balompiรฉ 1-0 Villarreal Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
5 views
Getafe 2-1 Real Sociedad Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Elche CF 1-4 Athletic Club Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Real Madrid 4-1 RCD Mallorca Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Atlรฉtico Madrid 4-1 Celta Vigo Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Cรกdiz CF 0-4 Barcelona Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
4 views
Espanyol 2-3 Sevilla Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Rayo Vallecano 2-1 Valencia Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views

LIKE US ON FACEBOOK

More in Artikel Top Peluit