Connect with us

Artikel Top Peluit

Podcast Peluit Panjang Episode 1: Mengenal Coach Justin alias Justinus Lhaksana Lebih Dekat

Kami berkesempatan berbincang-bincang dengan sosok fenomenal di jagat sepak bola Indonesia. Dengarkan di halaman ini sekarang juga!

Profil Coach Justin alias Justinus Lhaksana, Podcast Peluit Panjang Eps 1

Coach Justin memiliki nama asli Justinus Lhaksana, saat ini berusia 53 tahun.

Justinus Lhaksana lahir di Surabaya, 28 Juli 1967.

Arti nama dari Justinus Lhaksana diambil dari kata Justinus yang berarti justicia atau “keadilan” dalam bahasa Indonesia.

Nama tersebut diberikan oleh sang ayah yang berkuliah mengambil jurusan hukum.

Selain itu, ayah dari Coach Justin adalah seorang berkebangsaan Belanda.

Kehidupan Justinus Lhaksana Semasa Kecil di Belanda

Coach Justin pindah ke Belanda, tepatnya pindah ke kota Utrecht sejak usia 12 tahun dari Surabaya, Indonesia.

Kemudian, saat tinggal di Belanda, Coach Justin mengaku menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Selama masa mudanya, kehidupan Coach Justin berkutat di sepak bola, selain kehidupan pribadi dengan lingkungan sekitar dan pendidikan.

Setiap pekan, Coach Justin rutin berlatih sepak bola dan menyaksikan FC Utrecht berlaga di stadion baik tandang maupun kandang dari usia 12 tahun hingga 17.

Posisi bermain Coach Justin di sepak bola adalah sayap kanan atau right winger.

Meskipun secara fisik, Coach Justin tidak terlalu besar, namun skill dan speed yang ada terbilang luar biasa.

Andai di usia 19 tahun Coach Justin kembali ke Indonesia, kemungkinan besar dia akan menjadi seorang pemain sepak bola profesional.

Karir Kepelatihan Justinus Lhaksana

Nama Coach Justin itu sendiri menjadi terkenal karena karir kepelatihannya di tim nasional futsal Indonesia.

Coach Justin kembali ke Indonesia dari Belanda pada tahun 1999 dan langsung diajak untuk mempopulerkan futsal di negara Indonesia bersama koleganya.

Pada tahun 2003, Coach Justin ikut mendirikan AMFC (Adjie Massaid Futsal Club) bersama mendiang Adjie Massaid.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2004, Coach Justin mengikuti kursus kepelatihan futsal dari KNVB (Koninklijke Nederlandse Voetbalbond, Federasi Sepak Bola Belanda).

Belanda sendiri merupakan salah satu kiblat dari sepak bola dunia, termasuk dengan total football, Ajax Amsterdam hingga akademi pemain muda Ajax itu sendiri.

Setelah tiga bulan kursus kepelatihan, termasuk magang dan lain sebagainya, Coach Justin akhirnya memperoleh lisensi kepelatihan futsal dari KNVB.

Pada 2004 akhir, Coach Justin resmi melatih tim nasional futsal Indonesia.

Kemudian, Mei 2005, Indonesia mengikuti Piala Asia di Vietnam dan berhasil lolos dari fase grup.

Barulah pada 2008, Indonesia mampu menyelesaikan AFF Futsal sebagai runner up atau peringkat 2.

Pada tahun 2009, Coach Justin diganti dari posisinya sebagai pelatih tim nasional futsal Indonesia.

Coach Justin pernah membuat coaching clinic futsal sebanyak 100 kali di daerah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Kemudian, Coach Justin menolak dirinya disebut sebagai bapak futsal Indonesia karena beliau hanya sebagai orang yang mempopulerkan futsal di Indonesia.

Setelah SEA Games Myanmar 2013, Coach Justin mundur karena menganggap federasi futsal Indonesia tidak perduli dengan mereka.

Enam tahun berselang, tepatnya pada 2019, Coach Justin kembali masuk ke tim nasional futsal Indonesia namun dengan peran yang berbeda yaitu sebagai direktur teknik.

Namum, Coach Justin hanya bertahan selama 3 bulan karena perbedaan prinsip dengan sang pelatih yaitu Kensuke Takahashi.

Karir Pengamat Sepak Bola atau Komentator dari Justinus Lhaksana

Mulai menggelegar di ESPN FC yang merupakan program sepak bola yang ada di NET TV.

Selain terkenal sebagai pelatih, Coach Justin juga memiliki reputasi di dunia komentator atau pengamat sepak bola Indonesia.

Pada tahun 2007, Coach Justin memulai debutnya di depan kamera TV saat menjadi komentator Liga Belanda, Eredivisie di Lativi (sekarang TV One).

Coach Justin bertahan di Lativi/TV One tersebut sampai 2014, sampai Piala Dunia 2014 di Afrika Selatan pada saat itu.

Selesai Piala Dunia, Coach Justin mengaku menjadi diri sendiri di ESPN FC dan di NET TV karena tidak terlalu banyak aturan yang mengikat selama siaran televisi tersebut mengudara.

Dari 2014 sampai 2018 di NET TV, ESPN FC sayangnya harus berhenti mengudara di tahun tersebut.

Kemudian, Coach Justin direkrut oleh beIN SPORTS untuk siaran Premier League Inggris selama 2 tahun sampai 2020.

Pada tahun 2020, Coach Justin sempat menjadi komentator Premier League di TVRI yang hanya bertahan selama tahun tersebut.

Selepas dari TVRI, Coach Justin menjadi komentator di USEE TV.

Kini, pada gelaran Euro 2020, Coach Justin menjadi komentator di RCTI.

Coach Justin sebagai Penggemar Arsenal dan Barcelona

Selain sebagai penggemar FC Utrecht, Coach Justin adalah fans dari Arsenal dan Barcelona karena permainan atraktif mereka pada saat itu.

Pada tahun 1990an, Arsenal tampil cukup bagus bersama George Graham, sang pelatih.

Untuk Barcelona yang juga terkenal karena akademi La Masia-nya, Coach Justin menyukai klub tersebut karena banyak mendapatkan influence atau pengaruh dari Johan Cruyff.

Nuansa Belanda yang kental di Barcelona saat itu membawa kedekatan emosional tersendiri bagi Coach Justin.

Coach Justin adalah anggota dari Barcelona atau socio yang bisa ikut melakukan voting untuk pemilihan presiden.

Kehidupan Coach Justin alias Justinus Lhaksana Hari ini

Meskipun sudah tidak melatih, Coach Justin masih menjadi pundit atau pengamat sepak bola (komentator) di DPI (Dewan Pundit Indonesia) di akun YouTube JEBREEETmedia TV.

Selain itu, Coach Justin juga punya akun YouTube pribadi yang sangat aktif mengunggah konten-konten video yang membicarakan sepak bola luar negeri, Indonesia dan kehidupan pada umumnya.

Coach Justin bisa kamu sapa melalui akun Twitter dan Instagaram miliknya.

Masa depan Coach Justin terletak pada trading saham, menurut pengakuannya.

Untuk mendapatkan referensi taruhan olahraga terbaik, kamu bisa mengunjungi link tertaut.

Kamu bisa dengarkan bincang-bincang lengkap Peluit Panjang dengan Coach Justin di Podcast di bawah ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *