Connect with us

Artikel Top Peluit

Seven Sisters: Era Keemasan Sepak Bola Italia dan Serie A

Totti AS Roma

Sudah Berkualitas, Ditambah Percepatan Pembangunan untuk Piala Dunia Pula

Jika saat ini dikenal dengan istilah Big Six untuk tim-tim besar di Inggris, maka Italia pernah mengenal istilah Le Sette Sorelle, The Seven Sisters atau Tujuh Saudari.

Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, Lazio, Parma dan Fiorentina saling bertempur guna meraih Scudetto dan gelar Eropa kala itu di tahun 90-an sampai awal 2000-an.

Stadion selalu dipenuhi oleh penonton untuk menyaksikan bintang-bintang terbaik di dunia berlaga.

Piala Dunia 1990 di Italia semakin menguatkan alasan mengapa negara tersebut adalah yang terbaik dan pusat sepak bola saat itu.

Jerman melawan Italia di final Piala Dunia 1990

Pemain-pemain kelas dunia seperti Diego Maradona di Napoli, Marco van Basten di AC Milan, Lothar Matthaus di Inter Milan, Roberto Baggio di Fiorentina – mereka semua menghiasi Serie A.

Mereka semua dibayar jauh lebih mahal dibandingkan para pemain lain.

Kehidupan mereka terlihat seperti yang paling berkilau atau glamour.

Semua fasilitas, termasuk stadion, direnovasi dan diperbaharui guna mendukung gelaran akbar 4 tahunan tersebut.

Baca juga: 5 Alasan Inter Milan akan Mencuri Scudetto Juventus

Pemain Kelas Dunia Bertebaran di Negeri Pasta

Pada masa itu, dikenal sebagai waktu yang menyenangkan untuk penikmat Serie A.

Ronaldo Nazario, Gabriel Batistuta, George Weah, Hernan Crespo, Christian Vieri, Alessandro Del Piero dan Marcelo Salas selaku penyerang selalu menghiasi serangan tim masing-masing.

Selagi mereka menyerang, pemain bertahan seperti Franco Baresi, Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Giuseppe Bergomi, Lilian Thuram serta Fabio Cannavaro bersiap siaga menahan lini pertahanan.

Seniman lini tengah seperti Rui Costa, Juan Veron dan Zinedine Zidane selalu mengorkestrasikan pertandingan bak pertunjukan megah nan indah.

Ronaldo Nazario di Inter Milan

Saat ini, untuk membuktikan diri sebagai pemain sepak bola hebat, seseorang diharuskan untuk bermain setidaknya di La Liga atau di Premier League.

Dulu, semua pemain sepak bola bercita-cita untuk bermain di Serie A.

Semua pemain yang dianugerahi Ballon d’Or dari 1980 sampai 2007 (sebelum dominasi Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi) – kecuali Igor Belanov dan Michael Owen – semuanya pernah, akan bermain atau sedang bermain di Italia kala itu.

Serie A saat itu menjadi liga paling kompetitif di Serie A saat itu.

Hebatnya Prestasi Klub Italia di Ajang Eropa

Dalam rentang waktu 1983 sampai 2003, klub dari Serie A selalu mencapai babak final Piala Eropa atau Champions League, sebanyak 13 kali.

Enam piala berhasil pulang ke Italia di mana tujuh di antaranya menjadi runner up.

AC Milan kalahkan Juventus di final UCL 2002-2003

Dari tahun 1989 sampai 1999, hanya 1 kesempatan di mana tidak ada wakil Italia di final UEFA Cup.

Empat final berisikan All Italian Final dan 8 piala berhasil terbang ke Italia.

Kebangkrutan Menjadi Awal Kehancuran Parma

Parma kehilangan banyak pemain bintang seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Hernan Crespo, Roberto Baggio, Ariel Ortega dan Juan Veron dalam kurun waktu yang singkat.

Pada tahun 2004, Parmalat dinyatakan bangkrut karena penipuan dan penggelapan.

Tim Parma yang menjuarai UEFA Cup 1999

Calisto Tanzi dipenjara 18 tahun berkat kasus tersebut.

Parma sempat berjalan seperti biasa sebelum akhirnya kebangkrutan kembali menghampiri.

Pada tahun 2015, Parma kembali bangkrut.

Parma dijual seharga 1 euro atau sekitar Rp 16.000 pada tahun itu dan terpaksa harus terdegradasi sampai ke Serie D.

Baca juga: Generasi Emas Gelandang Tim Nasional Italia Tahun 2020 dan Seterusnya

AC Milan Dari Raksasa Eropa sampai Jadi Lelucon

AC Milan sempat menguasai daratan Italia dan Eropa sebelum banter era di tahun 2013 ke atas.

Carlo Ancelotti selaku manajer kala itu menjuarai Serie A 1 kali, Coppa Italia 1 kali, Supercoppa Italiana 1 kali, 2 kali Champions League, 2 kali UEFA Super Cup dan 1 FIFA Club World Cup.

AC Milan musim 2006-2007

Terakhir kali AC Milan menjuarai Serie A adalah musim 2010-2011 di mana bintang mereka saat itu adalah Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alexandre Pato, Gennaro Gattuso, Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, Kevin-Prince Boateng, Robinho sampai Ronaldinho.

Setelah itu, AC Milan selalu gagal kembali ke puncak penampilannya.

Rossoneri hanya berkutat di papan tengah dan paling maksimal hanya masuk ke Liga Eropa.

Tidak tepatnya pembelian pemain atau regenerasi pemain tua menjadi salah satu penyebab terpuruknya Milan.

Skandal Pengaturan Skor Menjadi Aib Bagi Juventus

Akhir tahun 90an, Juventus berada di puncak kesuksesan.

Bianconeri melaju ke final Champions League 2 kali berturut-turut dan menjuarai kompetisi tersebut di tahun 1996 setelah mengalahkan Ajax lewat adu penalti.

Di bawah Marcello Lippi, mereka menjuarai Serie A pada 1995, 1997 dan 1998.

Dengan Gigi Buffon, David Trezeguet, Pavel Nedved dan Lilian Thuram, Juventus menjuarai Serie A lagi di tahun 2002 dan 2003.

Juventus di tahun 1996 menjuarai UCL

Alessandro Del Piero menjadi kata lain dari Juventus.

Kesetiaan Del Piero terlihat setelah kasus calciopoli.

Meskipun bermain di Serie B pada musim 2006-2007, Del Piero tidak pindah seperti banyak bintang lainnya.

Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, Fabio Cannavaro, Emerson, Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta dan Adrian Mutu langsung pergi dari Juventus usai mereka turun ke kasta kedua Liga Italia.

Bintang-bintang seperti Buffon, Giorgio Chiellini, Pavel Nedved, Mauro Camonerasi, Alessandro Del Piero dan David Trezeguet masih setia membela Si Nyonya Tua.

Hanya 1 musim berada di Serie B, Juventus langsung ke Serie A.

Baca juga: Alvaro Morata Resmi Bergabung dengan Juventus: Striker yang Tepat?

Fiorentina, Layu Sebelum Merekah

Padahal, pada saat itu, Fiorentina merupakan salah satu klub yang disegani.

Bermodalkan pemain seperti Toldo, Batistuta, Brian Laudrup, Stefan Effenberg, Enrico Chiesa dan Rui Costa, La Viola menjuarai Coppa Italia tahun 1995 dan 2001.

Gabriel Batistuta menjadi salah satu penyerang terbaik di Italia saat itu.

Gabriel Batistuta

Diego Maradona bahkan menyebut Batistuta sebagai penyerang terbaik yang pernah dihadapi olehnya di muka bumi ini.

Batistuta sampai diberi julukan “Batigol” karena kehebatannya sebagai penyerang yang ditakuti banyak pemain bertahan lawan.

Batistuta menjadi salah satu dari 10 top skor terbanyak di Serie A dengan catatan 168 gol dari 269 pertandingan.

Secara keseluruhan, Batistuta mencetak 203 gol dari 331 penampilan bersama La Viola.

Batistuta pergi dari Fiorentina dengan medali juara Serie B, Coppa Italia dan Supercoppa Italiana.

Pada musim 1998-1999, Fiorentina terlihat ditakdirkan untuk menjuarai Serie A.

Sayangnya, Batigol cedera hamstring dan tidak dapat membantu lebih banyak lagi untuk Fiorentina.

Setelah itu, mereka sulit bersaing dengan tim-tim besar lain.

Mereka sempat mengalahkan Arsenal dan Manchester United di ajang Champions League.

Saat proses menuju klub yang lebih baik, Fiorentina justru terkena musibah.

Pada tahun 2002, Fiorentina mengalami kebangkrutan.

Para pemain inti terpaksa dijual oleh Fiorentina guna menyelamatkan finansial klub.

Akibatnya, mereka terdegradasi ke Serie B.

Vittorio Cecchi Gori, pemilik lama Fiorentina menjadi tersangka utama kasus tersebut berdasarkan putusan hukum di tahun 2006 karena money laundering.

Agustus 2002, Fiorentina diakuisisi oleh Diego Della Valle.

Fiorentina berganti nama menjadi Associazione Calcio Fiorentina e Florentia Viola atau Fiorentina Viola untuk singkatnya.

Pada tahun 2003, Della Valle membeli hak cipta Fiorentina yang lama bersamaan dengan nama dan lambing klub.

Sehingga, hingga hari ini kita mengenal ACF Fiorentina.

Tim Hebat Ibu Kota Italia Bernama Lazio

Dengan pemain seperti Sinisa Mihajlovic (spesialis tendangan bebas), Alessandro Nesta, Marcelo Salas dan Pavel Nedved, Lazio memiliki skuad yang hebat kala itu.

Ditambah dengan manajer sehebat Sven Goran Eriksson, Lazio berhasil menjuarai Serie A dan Coppa Italia pada musim 1999-2000.

Lazio menjuarai Coppa Italia lagi pada tahun 1998 dan 2004.

Pada 1999, Lazio menjuarai UEFA Cup Winners Cup.

Scudetto Lazio tahun 2000

Lazio menjadi runner up Serie A pada tahun 1995, ketiga di 1996 dan keempat pada 1997 serta hanya selisih 1 poin dari sang juara Milan pada 1999.

Pada periode keemasan Lazio, I Biancoceleste diisi oleh duo gelandang Juan Sebastian Veron dan Diego Simeone.

Roberto Mancini juga pernah bermain di sana bersama dengan Claudio Lopez dan Alen Boksic.

Setelah masa keemasan Lazio, mereka kini lebih sering berkutat di papan tengah atau papan atas.

Terakhir, Lazio menjuarai Coppa Italia 2 kali pada musim 2012-2013 serta Italian Super Cup pada 2017-2018 dan 2019-2020.

Penundaan Masa Kejayaan Inter Milan

Ketika 6 tim lain dianggap sukses, Inter Milan diyakini kurang baik pada tahun 90an.

I Nerazzurri tidak pernah menjuarai Serie A selama 1 dekade tersebut walaupun sudah diakuisisi oleh Massimo Moratti.

Mereka bahkan sampai memecahkan rekor transfer pemain termahal 2 kali untuk Ronaldo dan Christian Vieri.

UEFA Cup (sekarang Europa League) menjadi trofi yang sering diraih Inter kala itu dengan total 3 kali dalam musim 1990-1991, 1993-1994 dan 1997-1998.

Ronaldo Nazario di Inter Milan menjuarai UEFA Cup

Banyak momen yang perlu dilupakan oleh Inter Milan kala itu.

Mereka pernah disingkirkan oleh Helsingborg IF, klub dari Swedia di babak pra-kualifikasi Champions League.

Alvaro Recoba kala itu melewatkan tendangan penalti yang penting.

Lalu, Inter juga kalah 6-0 dari AC Milan di Derby Della Madonnina.

Namun, Inter baru merasakan kejayaan di abad 21.

Mereka menjadi tim pertama yang mendapatkan Treble bersama Jose Mourinho dengan raihan Serie A, Champions League dan Coppa Italia pada musim 2009-2010.

Inter juga menjuarai Serie A 5 kali secara beruntun dari musim 2005-2006 sampai 2009-2010.

Totti Adalah Roma dan Roma Adalah Totti

AS Roma tidak terlalu dikenal sebagai penantang juara di periode 90an.

Capaian terbaik mereka di Serie A datang pada 1997-1998 di mana mereka finish di peringkat 4.

Dimulainya abad 21 ditandai dengan munculnya Pangeran, Legenda, Pahlawan sekaligus Gladiator mereka, Francesco Totti.

Ketika membahas AS Roma, Totti adalah bagian sangat penting dari Roma.

Sejak debutnya pada Maret 1993 sampai pensiun di Juli 2017, Totti sudah bermain sebanyak 785 kali dengan catatan 307 gol dan 184 assist untuk AS Roma.

Totti mantan kapten AS Roma

Totti adalah pencetak gol terbanyak kedua di Serie A (di bawah Silvio Piola) meskipun ia adalah seorang gelandang serang.

Setelah itu, AS Roma lebih sering dikenal sebagai bridesmaid di Serie A karena menjadi runner-up di tahun 2002, 2004, 2006, 2007 dan 2008.

Selain di Serie A, AS Roma juga menjadi runner up di Coppa Italia tahun 2003, 2005 dan 2006.

Gelar scudetto untuk I Giallorossi berhasil diraih pada musim 2000-2001.

Rekor transfer pemain termahal untuk usia 30 ke atas, Gabriel Batistuta terbayarkan dengan catatan 20 gol di liga.

Kisah romantis tersebut berlanjut ketika Totti dan Cafu akhirnya meraih gelar scudetto pertama mereka.

Nasib Seven Sisters Kini

Pada awal musim 2020-2021 ini, AC Milan sebagai salah satu dari Seven Sisters berada di puncak klasemen sementara Serie A.

AC Milan, pemuncak klasemen sementara Serie A

Sementara itu, Juventus yang menjuarai Serie A 9 kali secara beruntun berada di peringkat 5.

Lalu, ada AS Roma yang berada di peringkat 4.

Inter Milan dengan belanja pemain yang luar biasa di bawah Antonio Conte sedang terseok-seok di peringkat 7.

Lazio bersama Ciro Immobile dkk berada di peringkat 9.

Fiorentina yang baru saja memecat manajer mereka Giuseppe Iachini dan digantikan dengan Cesare Prandelli berada di peringkat 12.

Sedangkan, Parma dengan harapan baru usai diakuisisi oleh Kyle Krause dari Krause Grup (Amerika Serikat) berada di peringkat 15.

Baca juga: Profil 3 Tim Promosi Serie A Italy Musim 2020-2021
9 Comments

Cuplikan Pertandingan

Atlético Madrid 1-2 Real Madrid Pekan 6
Posted on 19 September 2022 by Raul7
279 views
Empoli 1-2 Roma Pekan 6
Posted on 13 September 2022 by Raul7
41 views
UD Almería 0-1 Osasuna Pekan 5
Posted on 13 September 2022 by Raul7
7 views
Real Betis Balompié 1-0 Villarreal Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
5 views
Getafe 2-1 Real Sociedad Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Elche CF 1-4 Athletic Club Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Real Madrid 4-1 RCD Mallorca Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Atlético Madrid 4-1 Celta Vigo Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views
Cádiz CF 0-4 Barcelona Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
4 views
Espanyol 2-3 Sevilla Pekan 5
Posted on 12 September 2022 by Raul7
2 views

LIKE US ON FACEBOOK

More in Artikel Top Peluit