Connect with us

Artikel Top Peluit

VFL Wolfsburg: Kebangkitan Die Wölfe di Bawah Mark Van Bommel

Secara mengejutkan, tim asal kota industri otomotif ini tampil lebih di beberapa aspek ketimbang MU, Juventus, Chelsea dan Barcelona.

VfL Wolfsburg dan pelatihnya, Mark van Bommel (Kredit: @VfL_Wolfsburg di Twitter)

Sejarah VfL Wolfsburg

Verein für Leibesübungen Wolfsburg e. V atau VfL Wolfsburg adalah salah satu kontestan legendaris Bundesliga.

Pada 12 September 1945, tim ini dibentuk setelah 7 tahun sebelumnya, kota Wolfsburg berdiri.

VfL Wolfsburg sudah berada di top tier kompetisi sepak bola Jerman selama 25 musim atau tepatnya sejak awal musim 1997-1998.

Die Wölfe berdomisili di kota Wolfsburg, salah satu dari lima kota besar di negara bagian Lower Saxony dan berada 75 km sebelah timur kota Hanover.

VfL Wolfsburg sendiri bermarkas di Volkswagen Arena, stadion yang sanggup menampung suporter sebanyak 40.000 penonton.

Wolfsburg adalah kota industri yang berfokus pada otomotif, tepatnya pabrik Volkswagen.

Berkat kehebatan daerah ini menjadi salah satu pusat industri otomotif, Wolfsburg sempat menjadi kota terkaya di Jerman pada 2013.

Kembali ke sepak bola, sejak kemunculan VfL Wolfsburg pada tahun 1964, Die Wolfe baru satu kali menjuarai Bundesliga yaitu pada musim 2008-2009.

VfL Wolfsburg saat juara Bundesliga 2008-2009 (Kredit: ndr.de)

VfL Wolfsburg saat juara Bundesliga 2008-2009 (Kredit: ndr.de)

Kala itu anak asuh Felix Magath itu sanggup mengumpulkan 69 poin, hasil dari 21 kemenenangan serta 3 kali imbang dari lawan-lawannya.

Sebuah pencapaian luar biasa mengingat saat itu tidak banyak nama besar yang menghiasi skuat Die Wölfe.

Kejutan Die Wölfe

Memasuki akhir musim 2020-2021, WFL Wolfsburg berhasil mengunci posisi keempat klasemen Bundesliga, yang berarti mereka akan bermain di UCL 2021-2022.

Oliver Glasner, pelatih mereka saat itu juga terkejut dengan performa yang berhasil ditampilkan oleh Wout Weghorst dan kawan-kawan.

Wolfsburg sukses mengakhiri musim lalu dengan raihan 61 poin dengan catatan 17 kemenangan serta 10 hasil seri dengan mencetak 61 gol.

Sebuah rekor impresif yang akan coba mereka dapatkan kembali pada musim 2021-2022 ini.

Melihat kedalaman skuat mereka musim ini, julukan kuda hitam layak tersemat kepada Die Wölfe.

Wolfsburg musim ini mengganti nahkoda klub dari sebelumnya Oliver Glasner kepada pelatih debutan di Bundesliga, Mark Van Bommel.

Nama Mark Van Bommel jelas tidak asing di Bundesliga karena pernah bermain untuk Bayern Munchen selama 5 musim dari 2006-2011.

Pelatih berusia 44 tahun ini sebelumnya sempat mengarsiteki mantan klubnya, PSV Eindhoven dan tim nasional Uni Emirat Arab.

Sebuah langkah berani memberikan kesempatan kepada Van Bommel yang sebelumnya hanya menjabat asisten pelatih saat bersama Timnas Uni Emirat Arab.

Van Bommel langsung menjawab keraguan suporter Wolfsburg, dalam tiga laga perdananya pada awal musim 2021 ini.

Wolfsburg sukses meraih tiga kemenangan beruntun, masing-masing kala menundukan Bochum dan RB Leipzig 1-0 di Volkswagen Arena serta 2-1 saat menantang Hertha Berlin di Olympiastadion.

Rangkaian positif tersebut membuat klub yang memiliki warna khas hijau strip putih tersebut berada di puncak klasemen sementara Bundesliga.

Wolfsburg berhasil mengoleksi 9 poin di 3 laga pertama Bundesliga untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka berdiri.

Tim ini melaju ke jeda internasional bulan September 2021 sebagai pemuncak klasemen yang mana terakhir mereka rasakan pada musim 2008-2009 ketika juara Bundesliga.

Lalu penampilan apa yang ditawarkan oleh Mark Van Bommel hingga membawa Die Wolfe berada di pucuk?

Agresivitas ala Mark Van Bommel

Pelatih Mark Van Bommel sadar bahwa kedalaman skuat mereka tidak sedalam para lawan-lawannya seperti Bayern Munchen, Bayer Leverkusen, RB Leipzig maupun Borussia Dortmund.

Akan tetapi, dengan formasi 4-2-3-1 yang mereka tunjukan dalam tiga pertandingan awal Bundesliga, permainan terlihat sungguh sangat efektif.

Kunci permainan mereka terdapat pada double pivot andalan publik Wolfsburg, yaitu Maximilian Arnold asal Jerman serta Xaver Schlager, pemain berpaspor Austria.

Sama seperti pakem 4-2-3-1 lainnya, maka saat momen menyerang dari Die Wolfe, Maximilian Arnold akan sejajar dengan duet bek Maxence Laroix & Anthony Brooks.

Hal tersebut berguna untuk memanfaatkan long ball akurat dari Arnold ketika tim melakukan transisi menyerang ke sisi flank atau kedua sayap penyerangan.

Persis seperti apa yang kerap Mark Van Bommel lakukan ketika aktif bermain bersama tim nasional Belanda dan beberapa klub yang sempat dibelanya.

Xaver Schlager memiliki role atau peran sebagai penyeimbang atau jembatan antara lini belakang dengan lini depan melalui operan-operannya.

Schlager yang 28 September nanti akan berusia 24 tahun memiliki atribut yang cukup baik untuk menjadi deep lying playmaker seperti Arnold.

Kemudian, d sisi flank, sudah menunggu dua sayap berkualitas, yaitu Renato Steffen serta Ridle Baku.

Bahkan, nama terakhir sukses menyarangkan satu gol kala Wolfsburg mengalahkan Hertha Berlin 1-2 di Olympiastadion.

Belum lagi support dari dua full-back eksplosif mereka, Kevin Mbabu dan Jérôme Roussilon.

Roussilon pun sukses mencetak sebiji gol kemenangan The Wolves atas RB Leipzig.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh VfL Wolfsburg (@vfl.wolfsburg)

Untuk lini depan, coach Van Bommel akan mempercayai satu posisi kepada goal getter andalan VfL Wolfsburg selama tiga musim belakangan, Wout Weghorst.

Striker berkebangsaan Belanda ini sebelumnya sukses mencetak 66 gol dari 124 penampilan bersama Die Wolfe.

Kamu bisa menyaksikan cuplikan pertandingan VfL Wolfsburg di sini.

Statistik Permainan VfL Wolfsburg yang Menjanjikan

Sejauh 3 pertandingan Wolfsburg di Bundesliga, setidaknya mereka menampilkan sesuatu yang menjanjikan.

Menurut WhoScored, Wolfsburg rata-rata menguasai 56,3% penguasaan bola tiap laganya, lebih banyak dari Juventus (55,9%), Manchester United (55,8%), bahkan juara Champions League musim lalu, Chelsea (53,2%).

Kemudian, untuk akurasi operan pun, Wolfsburg (82,9%) lebih unggul dari Manchester United (82,1%)!

Dari jumlah tembakan per laga, Wolfsburg (13) lebih produktif ketimbang nama-nama besar seperti Paris Saint-Germain (12,8), Tottenham (12) dan Barcelona (9,7).

Artinya, secara membangun serangan, Wolfsburg bisa bermain dengan operan-operan pendek yang akurat guna menciptakan banyak peluang.

Apabila tim ini terus konsisten, bukan tidak mungkin pada akhir musim bisa mengalami peningkatan.

Pada 2019-2020, Wolfsburg finish di peringkat 4.

Tim ini tentu mengincar peningkatan dari musim lalu.

Selain di Jerman, Wolfsburg juga akan bertanding di kompetisi antar klub tertinggi di kancah Eropa, UEFA Champions League.

Wolfsburg berada satu grup bersama juara Ligue 1 Perancis, LOSC Lille, kemudian tim besar Spanyol, Sevilla dan kuda hitam asal Austria, RB Salzburg.

Dengan mengandalkan kolektifitas tim, akankah VfL Wolfsburg mampu memberikan kejutan luar biasa pada Bundesliga-Saison 2020-2021 ini?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LIKE US ON FACEBOOK

More in Artikel Top Peluit

P